Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an pada QS. Surat Al-Ma'arij
إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيدًا وَنَرَاهُ قَرِيبًا
“Sejujurnya mereka memandang hari itu berhenti jauh, sedangkan Kami memandangnya dekat.”
TintaSiyasi.id -- Ayat ini singkat, tetapi menggetarkan hati orang-orang yang beriman. Allah SWT menampilkan perbedaan besar antara pandangan manusia yang lalai dan pandangan Ilahi yang Maha Benar. Manusia merasa putus asa masih lama, sedangkan Allah SWT menegaskan bahwa hari itu dekat dan pasti akan datang.
Kedekatan berkemah bukan sekedar tentang menghitung waktu, melainkan tentang kepastian. Apa pun yang pasti datang pada hakikatnya sudah dekat. Kematian yang mungkin datang malam ini adalah pintu berhenti pribadi setiap manusia.
Manusia Modern dan Kelalaian Spiritual
Di zaman ini manusia semakin sibuk mengejar dunia:
• mengejar harta,
• jabatan,
• Populer,
• kesenangan,
• dan kemewahan hidup.
Namun sedikit sekali yang sibuk mempersiapkan perjalanan menuju akhirat.
Banyak kehidupan manusia yang seolah-olah tidak akan mati. Mereka membangun cita-cita dunia bertingkat-tingkat, tetapi lupa menggali bekal untuk kuburannya sendiri. Mereka takut miskin, tapi tidak takut kepada hisab Allah SWT. Mereka cemas kehilangan pekerjaan, namun tidak cemas kehilangan iman.
Padahal setiap hari manusia sedang berjalan menuju akhir kehidupannya.
Setiap detik usia berkurang.
Setiap tarikan napas mendekati manusia ke kubur.
Setiap matahari terbenam sebenarnya sedang mengumumkan bahwa umur dunia semakin pendek.
Mengapa Manusia Menganggap Kiamat Masih Jauh?
1. Karena Tertipu Oleh Dunia
Dunia memiliki daya tipu yang sangat kuat. Gemerlapnya membuat manusia lupa bahwa semua ini sementara.
Rumah megah akan ditinggalkan.
Kendaraan mewah akan diwariskan.
Tubuh yang kuat akan menjadi tanah.
Nama besar akhirnya hanya menjadi tulisan di batu nisan.
Tetapi manusia tetap terlena.
Allah SWT menggambarkan dunia seperti fatamorgana: tampak indah dari kejauhan, tetapi kosong ketika didekati.
2. Karena Panjang Angan-Angan
Setan membuat manusia berkata:
• “Nanti kalau tua saya bertaubat.”
• “Nanti kalau sudah sukses saya rajin beribadah.”
• “Nanti setelah urusan dunia selesai saya mendekat kepada Allah.”
Padahal tidak ada jaminan seseorang mencapai hari esok.
Betapa banyak orang yang pagi masih tertawa, sore sudah berada di liang lahat.
3. Karena Hati Menjadi Keras
Dosa yang terus dilakukan tanpa taubat membuat hati menjadi gelap. Ketika hati gelap:
• nasihat tidak lagi menyentuh,
• ayat Al-Qur'an tidak lagi digetarkan,
• Kematian tidak lagi menimbulkan kesadaran.
Inilah bahaya terbesar kehidupan modern: matinya hati di tengah hidup yang tampak gemerlap.
Allah Memandang Kiamat Itu Dekat
Mengapa Allah mengatakan berhenti dekat?
Karena di sisi Allah SWT, perjalanan dunia sangatlah singkat. Ribuan tahun dunia bagi Allah seperti satu hari saja. Apa yang manusia anggap lama sesungguhnya sangat cepat di hadapan-Nya.
Lebih dari itu, kematian setiap manusia bisa datang kapan saja.
Kematian adalah gerbang menuju akhirat. Maka siapa yang mati, akhir privatnya sesungguhnya telah dimulai.
Kubur bukan akhir perjalanan, tapi awal kehidupan akhirat:
• ada nikmat kubur,
• ada fitnah kubur,
• ada pertanyaan malaikat,
• ada penyesalan yang tidak berguna lagi.
Karena itu orang beriman hidup dalam kewaspadaan ruhani.
Tanda-Tanda Kiamat yang Semakin Nyata
Rasulullah SAW telah banyak mengabarkan tanda-tanda akhir zaman:
• fitnah merajalela,
• amanah disia-siakan,
• ...
• ulama wafat,
• maksiat dianggap biasa,
• manusia berlomba meninggikan bangunan,
• hati dipenuhi cinta dunia.
Bukankah banyak tanda itu kini tampak di hadapan mata?
Teknologi semakin maju, namun ketenangan hati semakin hilang.
Informasinya melimpah, tetapi hikmahnya semakin sedikit.
Manusia saling terhubung, tetapi jiwa semakin kesepian.
Kemajuan dunia ternyata tidak selalu membuat manusia dekat kepada Allah SWT.
Hikmah Besar Kiamat
1. Membuat Hati Menjadi Lembut
Orang yang mengingat kematian akan mudah menangis dalam doa, mudah memaafkan, dan tidak sombong.
Ia sadar:
• dirinya lemah,
• Sementara itu,
• dan semua akan kembali kepada Allah SWT.
2. Menumbuhkan Keikhlasan
Ketika dunia sadar akan berakhir, manusia tidak lagi terlalu haus pujian.
Ia beramal bukan demi manusia, melainkan demi ridha Allah SWT.
3. Menjadikan Hidup Lebih Bermakna
Orang yang mengingat akhirat akan lebih berhati-hati:
• dalam berbicara,
• mencari rezeki,
• memperlakukan orang lain,
• dan menggunakan waktunya.
Karena dia tahu semua akan dipertanggungjawabkan.
4. Menghidupkan Semangat Taubat
Selama nyawa belum sampai di tenggorokan, pintu taubat masih terbuka.
Tidak peduli seberapa besar dosa seseorang:
• Allah Maha Pengampun,
• Allah Maha Penyayang,
• Allah menerima hamba yang kembali dengan tulus.
Jalan Persiapan Menghadapi Kiamat
Memperbaiki Shalat
Shalat adalah tiang agama dan cahaya kehidupan ruhani. Orang yang menjaga shalat akan lebih mudah menjaga dirinya dari kemaksiatan.
Memperbanyak Zikir
Hati yang jauh dari zikir akan mudah keras dan gelisah. Mengingat Allah SWT adalah sumber ketenangan sejati.
Membaca Al-Qur'an
Al-Qur'an adalah cahaya yang mengeluarkan hati di tengah gelapnya zaman fitnah.
Bersahabat dengan Orang Saleh
Lingkungan sangat mempengaruhi hati. Duduk bersama orang saleh akan menghidupkan semangat akhirat.
Mengurangi Cinta Dunia
Bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, tetapi menjadikan dunia di tangan, bukan di hati.
Renungan Sufistik: Kiamat dan Kebangkitan Hati
Para ulama tasawuf mengajarkan bahwa ada manusia yang telah “mati” sebelum kematian datang, yaitu hati yang tenggelam dalam syahwat dan kejahatan.
Sebaliknya, ada hati yang hidup walaupun tubuhnya sederhana dan miskin. Hati itu hidup karena:
• mengenal Allah,
• mencintai Allah,
• berharap hanya kepada Allah.
Kebangkitan sejati bukan hanya terjadi nanti di Padang Mahsyar, tetapi ketika hati mulai sadar dari tidur panjang kelalaian.
Betapa banyaknya hidup manusia puluhan tahun, namun belum benar-benar hidup di hadapan Allah SWT.
Penutup: Semuanya Sebelum Terlambat
Kiamat pasti datang.
Kematian pasti diundang.
Kubur pasti.
Hisab pasti terjadi.
Yang belum pasti hanyalah: apakah kita sudah siap?
Hari ini Allah SWT masih memberi kesempatan:
• untuk bertaubat,
• memperbaiki diri,
• meminta maaf,
• memperbanyak amal,
• dan kembali ke jalan-Nya.
Jangan menunggu tua untuk menjadi saleh.
Jangan menunggu sakit untuk mengingat Allah.
Jangan menunggu musikah untuk sujud dengan sungguh-sungguh.
Karena suatu saat nanti manusia akan menyesal, namun penyesalan itu tidak lagi berguna.
Semoga Allah SWT membangunkan hati kita dari kelalaian dunia, menjadikan kita hamba yang selalu mengingat akhirat, diberi husnul khatimah, dan dikumpulkan bersama orang-orang saleh di surga-Nya. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Rohani dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)