TintaSiyasi.id -- Kematian adalah kepastian yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Ia bukan akhir dari perjalanan manusia, melainkan gerbang menuju kehidupan yang abadi. Dalam pandangan Islam, kematian bukan sekadar berhentinya denyut nadi dan berpisahnya ruh dari jasad, melainkan berpindah dari alam fana menuju alam akhirat yang kekal.
Allah SWT berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah yang diberikan dengan balasan sempurnamu. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya." (QS. Ali 'Imran : 185)
Ayat ini menegaskan bahwa kematian adalah sunnatullah yang menimpa seluruh makhluk. Tidak ada kekuasaan, harta, kedudukan, ataupun kecerdasan yang mampu menolak datangnya ajal. Raja dan rakyat, kaya dan miskin, semuanya akan kembali kepada Allah SWT.
Hakikat Kematian dalam Perspektif Islam
Dalam Islam, kematian bukanlah kehancuran total, melainkan perubahan keadaan. Ruh manusia tetap hidup setelah jasad dikuburkan. Oleh karena itu, kematian disebut sebagai pintu menuju kehidupan akhirat.
Rasulullah SAW bersabda:
“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.”
Bagi seorang mukmin, kehidupan dunia hanyalah tempat persinggahan sementara. Sedangkan akhirat adalah negeri tujuan. Oleh karena itu, orang-orang saleh memandang kematian sebagai perjumpaan dengan Allah SWT, Dzat yang selama hidup mereka cintai dan rindukan.
Para ulama sufi menjelaskan bahwa manusia yang tenggelam dalam cinta dunia akan takut kepada kematian, karena kematian memisahkan dirinya dari kenikmatan duniawi. Namun orang yang hatinya dipenuhi cinta kepada Allah akan melihat kematian sebagai jalan menuju kedekatan dengan-Nya.
Tokoh sufi besar Ibnu Athaillah menjelaskan bahwa hati yang bergantung kepada dunia akan nyaman menghadapi kematian, sedangkan hati yang bergantung kepada Allah akan memperoleh ketenangan.
Mengingat Mati sebagai Cahaya Hati
Islam mengajarkan agar manusia sering mengingat kematian. Rasulullah SAW bersabda:
“Perbanyaklah mengingat pemutusan segala kenikmatan, yaitu kematian.”
Mengingat mati bukan untuk mengecewakan keputusasaan, tetapi untuk melahirkan kesadaran spiritual. Orang yang mengingat kematian akan lebih mudah:
• meninggalkan maksiat,
• Mengendalikan hawa nafsu,
• memperbaiki akhlak,
• memperbanyak amal saleh,
• serta tidak tertipu oleh gemerlap dunia.
Kematian ibarat cermin yang menampilkan hakikat kehidupan. Dunia yang tampak megah sesungguhnya sangat singkat. Jabatan akan hilang, harta akan ditinggalkan, dan tubuh akan menjadi tanah. Yang tersisa hanyalah amal.
Keutamaan Mati
1. Melembutkan Hati
Hati manusia sering mengambil karena dosa dan kecintaan berlebihan kepada dunia. Mengingat kematian dapat meredakankan hati dan menumbuhkan rasa takut kepada Allah SWT.
Orang yang sadar bahwa dirinya akan dikuburkan tidak akan mudah sombong dan zalim kepada sesamanya.
2. Menumbuhkan Zuhud terhadap Dunia
Mengingat mati menjadikan seseorang tidak rakus mengejar dunia. Ia bekerja dan berusaha, tetapi hatinya tidak diperbudak oleh harta dan kedudukan.
Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, melainkan menempatkan dunia di tangan, bukan di hati.
3. Mendorong Taubat dan Amal Saleh
Orang yang sadar bahwa ajal dapat datang kapan saja akan segera bertaubat dan memperbaiki diri. Ia tidak menunda ibadah dan tidak menunggu tua untuk kembali kepada Allah SWT.
Setiap detik hidup dipandang sebagai kesempatan berharga untuk menanam amal bagi kehidupan akhirat.
4. Menghadirkan Ketenangan Jiwa
Anehnya, orang yang selalu mengingat kematian justru lebih tenang dalam menjalani hidup. Ia tidak terlalu sedih ketika kehilangan dunia dan tidak terlalu bangga ketika memperoleh kesenangan.
Ia memahami bahwa semua yang ada di dunia hanyalah titipan sementara.
Kematian sebagai Nasihat Terbesar
Kuburan adalah madrasah ketenangan yang mengajarkan hakikat hidup. Di sana tidak ada lagi perbedaan status sosial. Semua kembali menjadi tanah dan menunggu hari kebangkitan.
Oleh karena itu, para ulama terdahulu sering berziarah kubur untuk melembutkan hati dan mengingat akhir perjalanan hidup. Tokoh agung Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan diri menghadapi kematian sebelum kematian itu datang
Penutup
Kematian bukanlah akhir segalanya, melainkan awal perjalanan menuju kehidupan yang kekal. Orang yang bijak bukanlah yang paling banyak berkumpul di dunia, tetapi yang paling siap ketika dipanggil Allah SWT.
Mengingat kematian akan membersihkan hati dari kesombongan, melahirkan keikhlasan, serta menghidupkan semangat taubat dan ibadah. Dunia hanyalah persinggahan sementara, sedangkan akhirat adalah negeri abadi.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang husnul khatimah, hati yang selalu sadar akan akhir perjalanan hidup, serta dipenuhi kerinduan untuk bertemu dengan-Nya. Aamiin.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Rohani dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)