Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Gaza Terus Terluka, Mengapa Solusi Selalu Buntu?

Rabu, 13 Mei 2026 | 06:07 WIB Last Updated 2026-05-12T23:07:21Z

TintaSiyasi.id -- Gaza kembali bersimbah darah. Kapal-kapal bantuan kemanusiaan yang membawa harapan bagi rakyat yang terkepung, justru dicegat di perairan internasional. Ratusan aktivis ditangkap, puluhan terluka. Di daratan, bom terus menghujani wilayah sipil, menghancurkan rumah, sekolah, dan fasilitas kesehatan. Dunia menyaksikan, mengecam, lalu berlalu. Luka itu terus berulang tanpa jeda, tanpa akhir. Lalu muncul satu pertanyaan mendasar: mengapa solusi untuk Gaza selalu buntu?

Fakta yang tersaji menunjukkan tragedi ini bukan peristiwa sesaat. Sebanyak 211 aktivis ditangkap dalam pencegatan kapal bantuan, 31 lainnya terluka. Dalih “terorisme” kembali digunakan untuk membungkam solidaritas global. Di sisi lain, hampir 300 jurnalis dilaporkan tewas sejak agresi dimulai, menjadikan Gaza salah satu tempat paling mematikan bagi pewarta. Lebih dari 72.000 jiwa melayang, ratusan ribu terluka, dan sebagian besar infrastruktur sipil hancur. (www.cnnindonesia.com, 1-5-2026). Namun di tengah angka-angka mengerikan ini, solusi nyata tak kunjung hadir.

Berbagai upaya yang disebut sebagai “jalan keluar” terus diulang seolah sebatas ritual : kecaman internasional, resolusi lembaga dunia, hingga bantuan kemanusiaan. Namun semuanya terbukti tidak mampu menghentikan penderitaan. Blokade tetap berlangsung, agresi terus berulang, dan korban terus berjatuhan. Fakta ini menegaskan bahwa yang selama ini dianggap solusi sejatinya tidak menyentuh akar masalahnya.

Kebuntuan ini bukan karena dunia tidak tahu, tetapi karena sistem yang digunakan memang tidak dirancang untuk menghentikannya. Hukum internasional tak memiliki daya paksa terhadap pihak yang kuat. Label “teroris” digunakan untuk melegitimasi tindakan represif dan mengkriminalisasi setiap bentuk perlawanan maupun solidaritas. Lebih jauh, negeri-negeri Muslim tidak tampil sebagai satu kekuatan yang mampu memberikan perlindungan nyata. Semua bergerak sendiri-sendiri dalam batas negara, tanpa kekuatan kolektif yang mengikat.

Di sinilah akar masalahnya. Dunia Islam hari ini termutilasi serta tercerai-berai dalam sistem negara-bangsa yang memisahkan kekuatan umat menjadi bagian-bagian kecil yang lemah. Tidak ada institusi politik yang berdiri di atas akidah Islam yang mampu melindungi kaum Muslimin secara menyeluruh. Akibatnya, Palestina, khususnya Gaza, menjadi sasaran empuk dalam percaturan politik global yang didominasi kepentingan kekuatan besar. Selama keberadaan negara bangsa ini dinormalisasi dan dibiarkan, maka setiap solusi akan selalu berakhir buntu.

Padahal dalam Islam, darah kaum Muslimin adalah satu kesatuan yang wajib dijaga. Rasulullah Saw menggambarkan kaum Muslim seperti satu tubuh; dimana ketika satu bagian terluka, seluruh tubuh akan merasakan demamnya. Konsep ini bukan sekadar nilai moral, tetapi landasan politik yang meniscayakan adanya kekuatan yang benar-benar melindungi umat.

Oleh karena itu, penyelesaian tragedi Gaza tidak cukup dengan simpati, bantuan sandang dan pangan, atau tekanan diplomatik. Semua itu hanya meredakan, nsmun tidak pernah menyelesaikan. Solusi hakiki adalah menuntut adanya kekuatan riil yang mampu menghentikan kezaliman dan melindungi kaum Muslimin secara nyata.

Dalam sejarah Islam, peran ini dijalankan oleh institusi kepemimpinan yang menjadikan syariat sebagai dasar, yang berfungsi sebagai perisai (junnah) bagi umat.
Dengan demikian, pertanyaan “mengapa solusi selalu buntu?” menemukan jawabannya: karena solusi yang ditempuh tidak menyentuh akar persoalan dan tidak didukung oleh kekuatan yang memadai. Selama umat tidak memiliki perisai yang nyata, tragedi seperti yanh dialami Gaza akan terus berulang, baik di tempat yang sama maupun di tempat lain.

Gaza hari ini adalah alarm keras bagi dunia Islam. Bukan sekadar untuk menangisi luka yang tak kunjung sembuh, tetapi untuk menyadari bahwa tanpa perubahan mendasar, penderitaan ini akan terus berulang. Sudah saatnya umat mengarahkan kemarahan dan kepeduliannya bukan hanya pada reaksi sesaat, tetapi pada upaya membangun kembali kekuatan yang mampu benar-benar melindungi mereka. Karena tanpa itu, Gaza akan terus terluka, dan solusi akan tetap buntu.[]


Oleh: Erlis Agustiana
Aktivis Muslimah

Opini

×
Berita Terbaru Update