TintaSiyasi.id -- (Sebuah Refleksi Dakwah Ideologis-Sufistik)
Di tengah gemerlap dunia modern, manusia tampak semakin maju—namun sekaligus semakin gelisah. Kota-kota menjulang tinggi, teknologi melesat tanpa batas, informasi mengalir deras dalam hitungan detik. Namun, dibalik semua itu, ada sebuah rahasia yang menggerogoti jiwa manusia.
Inilah paradoks peradaban hari ini.
Peradaban yang dibangun di atas sebagai perpecahan agama dari kehidupan telah melahirkan manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara spiritual. Ia mampu menaklukkan alam, namun gagal menaklukkan dirinya sendiri. Ia menguasai dunia, tetapi kehilangan makna hidup.
Manusia yang Kehilangan Arah
Sejak munculnya gelombang pemikiran yang dikenal sebagai Zaman Pencerahan, manusia Barat mulai membangun kehidupan tanpa menjadikan wahyu sebagai fondasi utama. Akal Ditempatkan sebagai hakim tertinggi, sementara agama dipinggirkan sebagai urusan privat.
Dari lahirnya sekularisme, yang secara perlahan menggeser Tuhan dari pusat kehidupan manusia.
Akibatnya, manusia modern hidup dalam ilusi kebebasan. Ia merasa merdeka dari aturan Ilahi, padahal sejatinya ia terikat oleh hawa nafsu dan ambisi duniawi. Hubungan antar manusia tidak lagi dibangun atas dasar iman dan kasih sayang, tetapi atas dasar manfaat dan kepentingan.
Jika Anda menguntungkan, Anda puas.
Jika tidak, kau lupakan.
Bukankah ini sebuah bentuk kesetaraan yang paling dalam?
Ketika Materi Menjadi Tuhan Baru
Dalam peradaban yang memuja materi, kesuksesan diukur dengan harta, jabatan, dan popularitas. Manusia berlomba mengumpulkan dunia, seakan-akan hidup hanya berakhir di sini.
Padahal Allah telah mengingatkan:
Pengembalian Dana yang Dapat Diperbaiki Layanan Pelanggan dan Layanan Pelanggan Pengoperasian Layanan Pelanggan yang Aman يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصۡفَرّٗا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمٗاۖ وَفِي Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan Perlindungan Hutang dan Perlindungan Hutang
“ Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu melihat warna kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid : 20)
Tafsir dan Hikmah Ayat
1. Hakikat Dunia: Lima Sifat Utama
Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan bahwa ayat ini menggambarkan tahapan kehidupan manusia:
• لَعِبٌ (la'ib) → permainan (masa kecil)
• لَهْوٌ (lahw) → kesenangan melalaikan (masa remaja)
• زِينَةٌ (zīnah) → perhiasan (masa dewasa)
• تَفَاخُرٌ (tafākhur) → saling tulus (status sosial)
• تَكَاثُرٌ (takāthur) → berlomba dalam harta & anak
Artinya: dunia itu berubah-ubah, tidak tetap, dan penuh gangguan.
Referensi:[Tafsir Jalalain, Surat Al-Hadid, Ayat 20]
2.Perumamaan Dunia: Seperti Tanaman
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan:
• Dunia seperti hujan yang menumbuhkan tanaman
• Awalnya indah dan menakjubkan
• Lalu:
o Layu
o Menguning
o Hancur
Ini menggambarkan:
• Keindahan dunia itu sementara
• Semua akan fana (hilang)
Referensi:[Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Surat Al-Hadid: 20]
3. Doa Akhir Kehidupan
Ayat ini menegaskan hanya ada dua hasil di akhirat:
• عَذَابٌ شَدِيدٌ → azab keras (bagi yang lalai)
• مَغْفِرَةٌ وَرِضْوَانٌ → ampunan & ridha Allah (bagi yang beriman)
Ini menunjukkan:
• Dunia = tempat ujian
• Akhirat = tempat hasil
4. Dunia adalah “Matā'ul Ghurūr” (Kesenangan yang Menipu)
Makna:
• Matā' → kenikmatan sementara
• Ghurūr → tipuan / sesuatu yang membuat lalai
Artinya:
Dunia bukan haram, tapi berbahaya jika membuat lupa akhirat.
5.Hikmah yang Bisa Diambil
A. Dunia tidak layak jadi tujuan utama
Karena sifatnya:
• cepat berubah
• tidak kekal
B. Jangan tertipu dengan kemewahan
Karena:
• semua akan hancur seperti tanaman
c. Fokus pada akhirat
Karena:
• hanya dua hasil: selamat atau celaka
6. Penguat dari Hadits Nabi ﷺ
Hadits:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
Latin:
Kun fid-dunyā ka-annaka gharībun aw 'ābiru sabīl
“Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau musafir.”
Referensi: HR. Bukhari (Hadits Shahih)
Makna: Jangan terlalu melekat pada dunia.
Ayat ini mengajarkan:
• Dunia hanyalah fase sementara dan penuh tipu daya
• Jangan terpedaya oleh:
o harta
o anak
status o
• Fokus utama:
mencari ridha Allah dan keselamatan akhirat
Ketika dunia dijadikan tujuan, maka hati akan selalu merasa kurang.
Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula kegelisahan yang dirasakan.
Inilah yang diisyaratkan oleh para ulama, seperti Imam Al-Ghazali, bahwa penyakit terbesar manusia bukanlah kemiskinan materi, tetapi mengikis hati dari makrifatullah.
Hati yang kosong dari Allah akan selalu mencari pengganti—dan dunia tidak pernah cukup untuk mengisinya.
Krisis Makna dan Kehampaan Jiwa
Hari ini, dunia menyaksikan meningkatnya depresi, kecemasan, dan kehilangan arah hidup. Manusia memiliki segalanya—tetapi tidak tahu untuk apa ia hidup.
Seorang tokoh Barat sendiri, Viktor Frankl, mengakui bahwa krisis terbesar manusia modern adalah hilangnya makna hidup. Ia menemukan bahwa manusia dapat bertahan dalam penderitaan apa pun, selama ia memiliki makna. Namun tanpa makna, hidup menjadi beban yang tak tertanggungkan.
Islam telah menjawab ini sejak awal:
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS.Adz-Dzariyat : 56)
Inilah identitas manusia sejati.
Bukan sekedar makhluk ekonomi.
Bukan sekadar konsumen dunia.
Tetapi hamba Allah.
Jalan Pulang: Dari Dunia Menuju Allah
Wahai jiwa yang letih…
Engkau tidak akan menemukan ketenangan di dunia yang fana ini.
Karena engkau diciptakan bukan untuk dunia, tetapi untuk Allah.
Allah berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra'd : 28)
Ketenangan bukanlah hasil dari banyaknya harta.
Bukan pula dari luasnya kekuasaan.
Tetapi dari kesepakatan hati kepada Allah.
Para ahli tasawuf mengajarkan bahwa perjalanan hidup ini adalah perjalanan pulang—safar ilallah. Dunia hanyalah persinggahan, bukan tujuan.
Maka siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan, dia akan tersesat.
Dan siapa yang menjadikan Allah sebagai tujuan, ia akan menemukan segalanya.
Membangun Peradaban Hati
Islam tidak menolak kemajuan. Islam tidak memusuhi ilmu pengetahuan. Namun Islam menolak peradaban yang kehilangan ruhnya.
Peradaban sejati adalah peradaban yang:
• menjadikan tauhid sebagai landasan,
• menyeimbangkan antara dunia dan akhirat,
• menghidupkan akal tanpa mematikan hati,
• mengarahkan dan mengarahkan manusia menuju Allah, bukan menjauh dari-Nya.
Generasi terbaik umat ini—para salafush shalih—telah membuktikan bahwa kesuksesan sejati lahir dari hati yang hidup. Mereka menaklukkan dunia bukan karena cinta dunia, melainkan karena zuhud terhadapnya.
Seruan untuk Kembali
Manusia Wahai…
Sudah saatnya kamu berhenti mengejar bayangan.
Sudah saatnya kamu kembali ke hakikat kehidupan.
Kembalilah kepada Allah sebelum kamu benar-benar kembali kepada-Nya.
Bersihkan hatimu dengan taubat.
Hidupkan jiwamu dengan dzikir.
Terangi akalmu dengan ilmu.
Dan luruskan langkahmu dengan iman.
Karena pada akhirnya, semua yang kamu cari di dunia ini—ketenangan, kebahagiaan, cinta—tidak akan kamu temukan kecuali dalam satu hal:
Kedekatan dengan Allah.
Penutup: Cahaya di Tengah Kegelapan
Peradaban boleh berubah.
Zaman boleh berganti.
Namun fitrah manusia tidak pernah berubah.
Ia selalu memohon kepada Tuhan.
Ia selalu mencari cahaya.
Dan cahaya itu tidak lain adalah petunjuk Allah.
Maka berbahagialah mereka yang menemukan jalan pulang,
sebelum terlambat.
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai…” (QS. Al-Fajr: 27–28)
Semoga kita termasuk di dalamnya.
Aamiin.
Dr. Nasrul Syarif M.Si. (Penulis Buku Gizi Rohani dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)