Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Jurnalis: Pengadaan Motor Listrik dan Kaos Kaki dalam MBG Adalah Kebijakan Salah Prioritas

Senin, 13 April 2026 | 15:09 WIB Last Updated 2026-04-13T08:09:07Z

TintaSiyasi.id -- Jurnalis Joko Prasetyo menilai bahwa pengadaan motor listrik Rp1,2 triliun dan kaos kaki Rp6,9 miliar dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah kebijakan yang salah prioritas.

 

"Kebijakan yang salah prioritas, bukan karena motor dan perlengkapan kerja tidak boleh ada, tetapi karena proporsi dan urgensinya tidak sejalan dengan tujuan utama program, yakni memberi makan rakyat," ucapnya kepada TintaSiyasi.ID pada Sabtu (11/04/2026).

 

Lanjutnya, ia memaparkan fakta bahwasanya motor listrik diperuntukkan bagi sekitar 21.800 Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dengan total anggaran Rp1,2 triliun. “Alhasil berdasarkan e-catalogue sekitar Rp46-50 juta per unit motor,” bongkarnya.

 

"Pertanyaannya, apakah semua membutuhkan kendaraan baru secara seragam? Apakah tidak ada opsi lebih efisien seperti subsidi transport? Ketika jawabannya langsung “beli massal”, maka ini bukan sekadar kebijakan operasional tetapi sudah menjadi standardisasi mahal yang dipaksakan," jelasnya.

 

Ia menambahkan, untuk pengadaan kaos kaki pun serupa dengan motor listrik, anggaran Rp6,9 miliar untuk sekitar 17.000 pasang, sehingga sepasang kaos kaki bernilai sekitar Rp100.000.

 

"Disebut sebagai perlengkapan kerja. Namun hingga kini belum ada penjelasan rinci dan transparan, siapa penerimanya secara spesifik? Apa urgensi langsungnya terhadap layanan gizi? Bagaimana dasar harga dan spesifikasinya," keluhnya mempertanyakan.

 

Pria yang akrab disapa Om Joy itu menilai persoalan pengadaan tersebut bukan terkait keberadaannya, melainkan apakah ini benar-benar kebutuhan mendesak atau sekadar pelengkap yang dibesarkan.

 

“Melihat dari inti programnya, Rp2.000 per ompreng untuk pemilik dapur, Rp3.000 per ompreng untuk operasional,” sebutnya.

 

"Di sinilah kontradiksi itu terlihat terang. Jika operasional sudah dihitung per porsi, maka distribusi dan mobilitas seharusnya sudah tercakup. Lalu kenapa masih ada pengadaan besar di luar itu? Ini yang membuat kebijakan ini tampak tidak konsisten," ungkapnya.

 

Om Joy menilai permasalahannya bukan sekadar angka, tetapi arah. “Ketika kebutuhan makan per porsi relatif terbatas, sementara fasilitas operasional bernilai puluhan juta per unit, atribut kerja mencapai ratusan ribu per item itu pun baru kaos kakinya saja, maka komposisi seperti ini wajar dipertanyakan,” lugasnya.

 

“Jangan sampai yang utama justru tertinggal, sementara yang pendukung didorong ke depan," tambahnya.

 

Ia menjelaskan sebagaimana dikutip dari sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang berbunyi Imam adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.

 

"Pertanggungjawaban itu bukan pada besarnya program, tetapi pada ketepatan dalam menempatkan prioritas. Mungkin di dunia ini bisa lolos, tetapi semuanya akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak," terangnya.

 

Ia tidak menampik jika rakyat memang membutuhkan makan, namun jika diibaratkan antara ikan dan kail, MBG hanya sebatas memberi ikan. “Dan ikan itu pun dibiayai dari uang rakyat sendiri, dengan total anggaran program yang sangat besar,” tandasnya.

 

"Sementara yang lebih dibutuhkan rakyat adalah kail, agar setiap kepala rumah tangga mampu memberi makan seluruh tanggungannya. Bukan sekali sehari saja. Bukan pula yang hanya masih sekolah saja. Karena solusi sejati bukan sekadar memberi makan, melainkan memastikan rakyat mampu makan tanpa bergantung," tegasnya.

 

Lebih lanjut, ia memandang dengan pola anggaran seperti itu, wajar bila publik bertanya apakah itu sekadar kebijakan yang belum matang, atau ada ruang-ruang yang berpotensi menimbulkan inefisiensi dan penyimpangan.

 

"Pertanyaan itu sah dan penting, agar setiap rupiah benar-benar kembali kepada rakyat, benar-benar menyejahterakan rakyat. Jangan sampai kebijakan ini justru menjadi sebab pertanggungjawaban yang berat di akhirat," pungkasnya.[] Taufan

Opini

×
Berita Terbaru Update