TintaSiyasi.id -- Kesehatan jiwa anak kini menjadi sorotan serius. Di tengah kemajuan teknologi dan pendidikan modern, semakin banyak anak mengalami tekanan mental berat. Pemerintah telah menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) penguatan penanganan kesehatan jiwa anak yang ditandatangani sembilan kementerian dan lembaga, termasuk Kemenkes, Kemendikbud, KemenPPPA, Kemendagri, Kemenag, Kemensos, Kominfo, BKKBN, dan Polri (antaranews.com, 5/03/2026).
Data Kemenkes dari layanan healing119.id dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan empat faktor utama yang memicu keinginan anak mengakhiri hidup: konflik keluarga (24–46%), masalah psikologis (8–26%), perundungan (14–18%), dan tekanan akademik (7–16%) (KemenPPPA, 7/03/2026). Kondisi ini menuntut penanganan lintas sektor.
Krisis kesehatan jiwa anak tidak lepas dari sistem kehidupan modern. Sistem sekuler liberal menempatkan agama sebagai urusan privat, sedangkan urusan publik lebih banyak diatur oleh logika rasional dan kepentingan materi.
Nilai-nilai keimanan sebagai fondasi ketahanan mental manusia pun terpinggirkan. Anak tumbuh dalam lingkungan minim pembinaan akidah dan makna hidup, sehingga saat menghadapi tekanan, mereka kehilangan sandaran keyakinan yang kuat.
Arus globalisasi media yang dikuasai industri kapitalisme mempercepat perubahan nilai. Platform digital, hiburan, dan budaya populer sering mempromosikan gaya hidup individualistik, kompetitif, dan materialistik.
Kebahagiaan digambarkan melalui pencapaian materi, popularitas, dan kesuksesan pribadi. Ketika realitas tidak sesuai harapan, anak-anak mudah merasa gagal dan tertekan.
Fungsi pendidikan di keluarga, sekolah, dan masyarakat pun melemah. Di keluarga, kesibukan ekonomi membuat orang tua sulit membina karakter anak secara mendalam.
Hubungan emosional sering digantikan interaksi praktis. Di sekolah, orientasi belajar lebih menekankan prestasi akademik dibanding pembinaan akidah dan nilai syariat. Anak cerdas secara intelektual mungkin belum memiliki kekuatan mental dan spiritual menghadapi ujian hidup. Di masyarakat, budaya saling mengingatkan melemah, digantikan pola hidup individualistis. Anak yang menghadapi masalah sering merasa sendirian tanpa ruang sosial aman untuk berbagi.
Krisis mental anak mencerminkan krisis nilai yang lebih luas. Kehidupan yang tidak berpijak pada akidah menjadikan orientasi hidup kabur, dan standar keberhasilan bergeser ke materi. Tanpa fondasi spiritual yang kuat, manusia rapuh menghadapi tekanan hidup. Sistem sekuler liberal kapitalistik tidak hanya menimbulkan ketimpangan ekonomi dan kompetisi sosial keras, tetapi juga melahirkan generasi rapuh secara mental dan spiritual.
Sejarah kepemimpinan Islam memberikan teladan bagaimana khalifah menjaga kesehatan mental dan fisik generasi. Khalifah seperti Umar bin Khattab r.a. menegakkan keadilan sosial, menyediakan keamanan, dan memastikan kebutuhan rakyat terpenuhi. Pendidikan, kesejahteraan, dan perlindungan anak menjadi perhatian utama sehingga generasi muda tumbuh dalam lingkungan yang sehat secara nilai, mental, dan fisik.
Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang berpijak pada syariat mampu membina masyarakat dan generasi kuat secara menyeluruh.
Perubahan sistem bukan wacana semata, tetapi agenda umat. Dakwah perlu membuka kesadaran masyarakat bahwa krisis kesehatan jiwa anak bukan sekadar masalah individu, tetapi akibat sistem nilai yang keliru. Kehidupan lebih baik tercapai jika diatur dengan sistem selaras fitrah manusia: syariat Islam. Syariat mengatur ibadah sekaligus menata kehidupan menyeluruh, menenteramkan jiwa, dan menjaga kemaslahatan manusia.
Negara memiliki peran penting sebagai ra’in (pengurus) dan junnah (pelindung) rakyat. Negara bertanggung jawab memastikan anak dan keluarga tumbuh dalam lingkungan sosial sehat secara nilai, tidak membiarkan arus budaya sekuler liberal merusak generasi. Perlindungan anak tidak cukup dengan layanan psikologis, tetapi juga menjaga masyarakat dari nilai yang merusak kepribadian.
Paradigma politik harus berpijak pada integrasi syariat Islam. Sistem pendidikan membentuk kepribadian Islam kuat, bukan sekadar tenaga kerja. Sistem kesehatan menjaga kesehatan mental masyarakat melalui pembinaan nilai spiritual. Sistem ekonomi menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar rakyat agar tekanan hidup dari kesulitan ekonomi diminimalkan.
Dengan pengaturan terintegrasi berdasarkan syariat Islam, kehidupan masyarakat selaras dengan fitrah manusia. Nilai ketakwaan, tanggung jawab, dan kepedulian sosial tumbuh sebagai budaya bersama. Di lingkungan ini, generasi berkembang sehat—fisik, intelektual, dan mental-spiritual.
Wallahu'alam.
Tuty Prihatini, S. Hut. (Aktivis Muslimah Banua)