Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Jangan Palingkan Cita-citamu kepada Selain Allah

Kamis, 11 September 2025 | 08:05 WIB Last Updated 2025-09-11T01:05:47Z

TintaSiyasi.id -- Menyelami Hikmah Ibnu Athaillah tentang Bashirah dan Jalan Ruhani

Pendahuluan
Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam al-Ḥikam sering mengingatkan manusia agar tidak salah arah dalam menapaki perjalanan hidup. Salah satu nasihat emasnya berbunyi:
“Jangan palingkan cita-citamu kepada selain Allah.”
Nasihat ini sederhana namun sangat mendalam. Cita-cita tertinggi seorang hamba bukan sekadar harta, kedudukan, atau popularitas, melainkan ridha Allah ﷻ. Jika orientasi hidup bergeser dari Allah kepada selain-Nya, maka hati menjadi gelap, dan mata batin (bashirah) menjadi buta.

Ibnu Athaillah juga menyingkap bahwa ada tiga penyebab utama kebutaan bashirah yang harus diwaspadai setiap salik (penempuh jalan Allah).

Tiga Penyebab Kebutaan Bashirah
1. Terbiasanya Anggota Badan dalam Maksiat kepada Allah
Maksiat yang dilakukan terus-menerus tanpa taubat akan menjadi karat di hati. Allah berfirman:
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14).
Bila anggota badan terbiasa pada maksiat, cahaya iman redup, dan bashirah menjadi kabur. Hati tidak lagi peka membedakan kebaikan dan keburukan. Inilah bahaya terbesar dari dosa yang dianggap kecil.
Kisah Reflektif:
Dikisahkan seorang tabi’in berkata, “Aku pernah bermaksiat kepada Allah, lalu aku rasakan dampaknya pada kuda tungganganku dan pelayananku.” Maksiat sekecil apapun, jika diulang, bisa merampas keberkahan hidup dan menutup pandangan ruhani.

2. Tamak terhadap Makhluk Allah
Ketamakan membuat hati bergantung kepada selain Allah. Orang yang tamak selalu merasa kurang, meski sudah berlimpah harta.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah emas, ia pasti ingin menambah yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ketika hati tamak, bashirah menjadi buta. Ia tidak lagi melihat karunia Allah yang telah cukup. Pandangannya terhijab oleh kerakusan.
Kisah Reflektif:
Imam Hasan al-Bashri pernah ditanya, “Mengapa kami berdoa, tetapi doa kami jarang terkabul?” Beliau menjawab, “Karena hati kalian mati, mata hati kalian buta, dan salah satunya sebabnya adalah kalian terlalu tamak terhadap dunia dan lupa kepada Allah.”

3. Merekayasa dalam Ketaatan kepada Allah
Inilah penyakit ruhani yang halus: beramal bukan karena Allah, tetapi demi pujian makhluk. Amal yang seharusnya menjadi jalan menuju Allah berubah menjadi racun yang menjauhkan dari-Nya.
Allah memperingatkan:
“Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya.” (QS. Al-Ma’un: 4–6).
Jika bashirah telah buta, amal saleh pun menjadi tipuan. Seorang hamba tampak taat di luar, namun di dalam dirinya tersembunyi pamrih duniawi.
Kisah Reflektif:
Dikisahkan seorang alim yang terkenal dengan ibadahnya pernah bermimpi bertemu dengan malaikat. Malaikat berkata, “Amalmu yang diterima hanya sedikit.” Ia terkejut, sebab ia merasa telah banyak beribadah. Lalu dikatakan padanya, “Amalmu banyak, tapi di dalamnya ada riya dan ingin dipuji.”

Refleksi Ruhani: Menjaga Kemurnian Cita-cita
Dari tiga penyakit ini, kita belajar bahwa kebutaan bashirah bukan hanya akibat maksiat lahiriah, tetapi juga penyakit batiniah. Cita-cita seorang hamba harus lurus: hanya kepada Allah.
• Jika hati condong kepada maksiat → gelaplah bashirah.
• Jika hati tamak pada makhluk → hancurlah ketenangan.
• Jika amal direkayasa → hilanglah keikhlasan.
Sebaliknya, bila cita-cita dipusatkan hanya kepada Allah, maka hati menjadi terang, hidup penuh makna, dan amal diterima di sisi-Nya.

Doa dan Wirid untuk Menjaga Bashirah
1. Agar Terhindar dari Maksiat
Para salaf biasa berdoa agar Allah menjaga anggota badan mereka dari perbuatan dosa.
Doa Nabi Yusuf AS (QS. Yusuf: 33):
رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ
“Ya Rabb, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka (kepada maksiat).”
Doa Salaf:
“Allahumma qawwi ‘ala khidmatika jawārihī, waj‘al al-sabrā ‘alā ṭā‘atika qarīnī.”
“Ya Allah, kuatkanlah anggota tubuhku untuk melayani-Mu, dan jadikanlah kesabaran dalam taat sebagai teman setiaku.”

2. Agar Terhindar dari Ketamakan kepada Makhluk
Para salaf sangat takut hatinya bergantung pada manusia. Mereka biasa membaca doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ:
Doa Nabi ﷺ (HR. Tirmidzi):
اللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوتًا
“Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad sekadar kecukupan (yang menenangkan).”
Doa Salaf:
“Allahumma aghnini bifadhlika ‘amman siwāk.”
“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan karunia-Mu, sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.”
Wirid ini dibaca berulang kali setiap selesai shalat, agar hati tidak condong pada ketamakan duniawi.

3. Agar Selamat dari Riya dan Rekayasa Amal
Riya adalah penyakit halus yang sangat ditakuti para salaf. Imam al-Ghazali dan banyak ulama menganjurkan membaca doa berikut:
Doa Nabi ﷺ (HR. Ahmad):
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu sedangkan aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang tidak aku ketahui.”
Wirid Salaf:
Banyak salaf menutup amal dengan istighfar, sebab mereka takut amalnya tercampur niat selain Allah. Misalnya dengan istighfar singkat:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ القَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Dibaca setelah ibadah atau saat muncul rasa ingin dipuji.

Wirid Harian Penjernih Bashirah
Beberapa wirid yang dianjurkan ulama tasawuf untuk menjaga kejernihan hati dan bashirah antara lain:
1. La ilaha illallah – dzikir tauhid, minimal 100x sehari.
2. Hasbiyallahu la ilaha illa Huwa, ‘alaihi tawakkaltu wa Huwa Rabbul ‘Arsyil ‘Azim (QS. At-Taubah: 129) – sebagai benteng tawakal.
3. Allahumma inni as’aluka qalban saliman, wa bashiratan nawiratan
(Ya Allah, aku memohon hati yang selamat dan bashirah yang bercahaya).

Penutup
Nasihat Ibnu Athaillah “Jangan palingkan cita-citamu kepada selain Allah” akan lebih mudah dijalani jika hati selalu dijaga dengan doa dan wirid.
• Dengan doa Nabi Yusuf, kita dijaga dari maksiat.
• Dengan doa Rasulullah, kita dijauhkan dari ketamakan.
• Dengan doa perlindungan dari syirik kecil, kita terhindar dari riya.
Hidup seorang salik adalah menjaga kejernihan bashirah dengan taat, tawakal, dan ikhlas. Doa dan wirid para salaf menjadi senjata ruhani agar cita-cita kita selalu lurus menuju Allah, dan tidak berpaling kepada selain-Nya.
Penutup
Nasihat Ibnu Athaillah ini adalah peringatan sekaligus peta jalan:
• Jangan palingkan cita-cita kepada selain Allah.
• Waspadailah tiga perusak bashirah: maksiat, tamak, dan riya.
• Hiduplah dengan hati yang ikhlas, ridha pada takdir Allah, dan jaga amal agar murni hanya karena-Nya.

Dengan begitu, seorang hamba akan memperoleh cahaya bashirah yang jernih, mampu membedakan kebenaran dari kebatilan, serta berjalan di jalan lurus hingga berjumpa dengan Allah dalam keadaan ridha dan diridhai.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update