Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Zaitun Dibakar, Rakyat Palestina Diusir: Saatnya Perisai Umat Ditegakkan

Senin, 26 Oktober 2026 | 07:51 WIB Last Updated 2026-10-26T00:51:52Z

TintaSiyasi.id -- Pohon zaitun adalah identitas dan urat nadi Palestina. Buahnya bukan sekadar komoditas, melainkan simbol ikatan turun-temurun rakyat dengan tanah kelahirannya (Informasiraja.com, 16/10/2026).

Secara ekonomi, zaitun menopang 90.000-100.000 keluarga dan menjadi tulang punggung pertanian Palestina. Karena nilai strategis itu, zaitun menjadi target serangan yang meningkat setiap musim panen Oktober-November.

Pada momen panen itulah kebrutalan terbuka. Tidak hanya petani, jurnalis dan diplomat pun ikut diserang, hingga pejabat AS harus meminta Israel menyelidikinya. Namun respons dunia hanya berhenti pada kecaman tanpa tindakan nyata (aljazeera.com, 16/10/2026).

Lantas mengapa zaitun yang menjadi simbol damai justru diserang. Di balik itu ada pola sistematis yang jelas di lapangan.

Israel merusak ekonomi dan akar budaya rakyat Palestina agar mereka pergi dari tanahnya. Targetnya adalah zaitun yang menjadi tulang punggung 90.000 hingga 100.000 keluarga.

Satu pohon zaitun butuh 15-20 tahun untuk produktif maksimal. Ketika pohon puluhan tahun itu dibakar saat panen, petani kehilangan tabungan setahun dan menanggung biaya tanam ulang. Lama-lama usaha tani menjadi tidak menguntungkan dan memaksa mereka menjual tanahnya.

Secara budaya, zaitun adalah akta tanah yang hidup dan simbol identitas turun-temurun. Ketika dimusnahkan, yang hilang bukan hanya buahnya, melainkan bukti sejarah dan jati diri. Generasi muda pun kehilangan ikatan dengan tanah kelahirannya.

Tak hanya itu, penyerangan terhadap jurnalis dan aktivis yang membersamai petani adalah upaya memutus mata rantai perlindungan sipil. Tanpa mereka, petani kehilangan perisai moral yang menghalangi kebrutalan pemukim. Ketika kamera dan saksi disingkirkan, kekejaman berlangsung senyap tanpa terekspos dunia.

Kepedulian AS pun hanya muncul karena yang diserang adalah warga AS dan diplomat EU, bukan petani Palestina. Jika korban bukan warga mereka, serangan dibiarkan lewat tanpa kecaman. Ini membuktikan klaim hak asasi oleh AS hanyalah standar ganda berbasis kepentingan.

Begitu pula kecaman EU belum pernah naik ke level tindakan, sehingga hanya menjadi retorika tanpa daya gentar. Kecaman dilontarkan setiap musim panen, namun tak pernah diikuti sanksi, embargo, atau pemutusan hubungan diplomatik. Karena itu Israel merasa aman terus brutal.

Kebrutalan Israel memang mengundang kebencian warga dunia, namun tetap tak ada perubahan berarti. Gelombang demonstrasi besar di berbagai belahan dunia tak mampu menekan Israel menghentikan penjajahan. Opini publik tanpa kekuatan negara dan tentara tak akan mampu mengubah nasib Palestina.

Fakta paling menyakitkan, para penguasa muslim terutama di negara Arab hanya berdiam diri bahkan menjadi kaki tangan Israel dan AS. Mereka tak mengerahkan tentara, justru menjaga kepentingan Israel lewat normalisasi, kerja sama ekonomi, dan pengamanan perbatasan. Sikap ini membuat Israel leluasa membantai tanpa takut balasan.

Pola kebuntuan ini menegaskan satu hal hakiki. Tanah Palestina adalah tanah kaum muslimin yang wajib dipertahankan. Allah SWT berfirman: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya... (QS. Al-Isra: 1).

Kondisi ini menunjukkan umat Islam tak bisa menggantungkan nasib pada siapapun. PBB lumpuh, AS standar ganda, EU hanya retorika, opini dunia tak berdaya, dan penguasa Arab jadi kaki tangan penjajah. Satu-satunya jalan adalah bersatu di bawah kepemimpinan Islam berlandaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Satu-satunya cara menghentikan kezaliman Israel dan sekutunya adalah mengirimkan tentara kaum muslimin di bawah kepemimpinan khilafah. Sebab Israel hanya mengerti bahasa kekuatan militer, bukan kecaman atau demonstrasi yang terbukti mandul.

Kekuatan itu hanya terwujud jika kaum muslimin memiliki kepemimpinan tunggal khilafah yang menyatukan potensi tentara negeri-negeri muslim untuk berjihad membebaskan Palestina. Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu adalah perisai, dimana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung dengannya. (HR. Muslim).

Tanpa perisai itu, pohon zaitun akan terus ditebang dan dibakar. Akar umat akan terus dikikis hingga tercerabut. Sudah saatnya umat bangkit menegakkan perisainya kembali untuk membebaskan Al-Aqsa dan sekelilingnya.[]


Mafrukhah
Aktivis Muslimah

Opini

×
Berita Terbaru Update