TintaSiyasi.id -- Memulai Hari dengan Doa Rasulullah Saw., Menapaki Jalan Syukur Menuju Cinta Allah
"Alhamdulillāhilladzī aḥyānā ba'da mā amātanā wa ilaihin nusyūr."
"Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami kembali setelah mematikan kami (dalam tidur), dan hanya kepada-Nya kami akan dibangkitkan."
Inilah doa pertama yang diajarkan Rasulullah Muhammad Saw., ketika membuka mata setelah tidur. Doa yang singkat, tetapi mengandung lautan makna akidah, tarbiyah, tasawuf, dan peringatan tentang akhirat. Setiap pagi, Rasulullah Saw., tidak mengajarkan umatnya untuk langsung memikirkan urusan dunia, keuntungan bisnis, jabatan ataupun ambisi. Beliau mengajarkan agar hati terlebih dahulu dipenuhi dengan pujian kepada Allah Swt.
Seorang mukmin sejati memulai harinya dengan mengingat Sang Pencipta, bukan dengan mengeluh tentang beratnya kehidupan. Sebab kehidupan bukan dimulai ketika mata terbuka, tetapi ketika hati kembali hidup dengan mengingat Allah.
Allah Swt., berfirman:
"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memaklumkan: 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'"
(QS. Ibrahim: 7).
Ayat ini bukan sekadar janji tentang bertambahnya harta, tetapi janji bertambahnya keberkahan hidup, ketenangan jiwa, keluasan rezeki, kemudahan urusan, cahaya ilmu, kesehatan, keluarga yang sakinah, dan terutama bertambahnya kedekatan dengan Allah Swt.
Tidur: Latihan Menuju Kematian
Para ulama tasawuf memandang tidur sebagai "kematian kecil". Ketika tidur, manusia kehilangan kesadaran, tidak mampu mengendalikan dirinya, bahkan tidak mengetahui apa yang akan terjadi hingga ia terbangun.
Oleh karena itu, setiap bangun tidur merupakan pelajaran bahwa Allah masih memberi kesempatan untuk bertaubat. Berapa banyak orang yang tidur bersama keluarganya, tetapi pagi harinya telah dipanggil menghadap Rabb-nya.
Maka, setiap fajar sejatinya adalah pesan langit:
"Wahai hamba-Ku, Aku masih memberimu kesempatan. Jangan sia-siakan umurmu."
Kesadaran inilah yang melahirkan rasa syukur yang hakiki.
Syukur Adalah Maqam Orang-Orang Arif
Dalam perjalanan menuju Allah, para ulama menjelaskan bahwa syukur bukan hanya ucapan Alhamdulillah, tetapi merupakan maqam spiritual yang tinggi.
Syukur memiliki tiga tingkatan:
Syukur dengan hati, yaitu menyadari bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah semata. Tidak ada keberhasilan yang lahir hanya dari kecerdasan, jabatan, atau kekuatan manusia.
Syukur dengan lisan, yaitu memperbanyak pujian kepada Allah, mengucapkan Alhamdulillah, berzikir, dan menyampaikan nikmat Allah tanpa kesombongan.
Syukur dengan amal, yaitu menggunakan seluruh nikmat untuk ketaatan. Mata dipakai membaca Al-Qur'an, telinga mendengar ilmu, lisan berdakwah, tangan membantu sesama, harta untuk infak dan sedekah, ilmu untuk mengajar, serta kekuasaan untuk menegakkan keadilan.
Syukur yang tidak diwujudkan dalam amal hanyalah ucapan. Sebaliknya, amal tanpa rasa syukur mudah melahirkan kesombongan.
Penyakit Zaman: Banyak Nikmat, Sedikit Syukur
Ironisnya, manusia modern memiliki lebih banyak fasilitas dibanding generasi terdahulu, tetapi lebih sedikit rasa syukurnya.
Rumah semakin megah, hati semakin gelisah.
Teknologi semakin canggih, hubungan keluarga semakin renggang.
Makanan semakin berlimpah, tetapi keberkahan terasa berkurang.
Informasi semakin banyak, tetapi hikmah semakin sedikit.
Penyebab utamanya adalah karena manusia lebih sibuk menghitung apa yang belum dimiliki daripada mensyukuri apa yang telah Allah berikan.
Padahal Rasulullah Saw., bersabda bahwa kekayaan sejati bukanlah banyaknya harta, melainkan kayanya hati.
Syukur Melahirkan Ketenangan Jiwa
Orang yang bersyukur tidak mudah iri.
Ia tidak tenggelam dalam kecemasan terhadap masa depan.
Ia tidak larut dalam penyesalan masa lalu.
Ia hidup pada hari ini dengan penuh keyakinan bahwa seluruh takdir Allah adalah yang terbaik.
Hatinya tenang karena percaya bahwa Allah tidak pernah salah memilihkan jalan hidup bagi hamba-Nya.
Ketika mendapat nikmat ia bersyukur.
Ketika mendapat ujian ia bersabar.
Kedua-duanya menjadi jalan menuju ridha Allah.
Syukur adalah Ideologi Kehidupan Seorang Mukmin
Syukur bukan sekadar ibadah pribadi, melainkan cara pandang hidup seorang mukmin. Orang yang bersyukur akan bekerja dengan amanah, berdakwah dengan ikhlas, mendidik dengan kasih sayang, memimpin dengan adil, dan melayani masyarakat sebagai bentuk penghambaan kepada Allah.
Syukur melahirkan pribadi yang tidak mudah mengeluh, tidak mudah menyalahkan keadaan, dan tidak putus asa menghadapi ujian. Ia yakin bahwa setiap nikmat adalah amanah dan setiap cobaan adalah sarana penyucian jiwa.
Jadikan Setiap Pagi Sebagai Awal Hijrah
Setiap kali membuka mata, jangan hanya bertanya:
"Apa yang akan aku peroleh hari ini?"
Tetapi bertanyalah:
"Apa yang akan aku persembahkan kepada Allah hari ini?"
Jadikan pagi sebagai awal hijrah baru. Perbaiki salat, perbanyak membaca Al-Qur'an, kuatkan zikir, muliakan kedua orang tua, bahagiakan keluarga, tebarkan manfaat kepada sesama, dan tegakkan nilai-nilai Islam dengan hikmah dan akhlak yang mulia.
Jangan biarkan satu hari berlalu tanpa amal yang mendekatkan kita kepada Allah Swt.
Penutup
Tiada hari tanpa bersyukur adalah prinsip hidup seorang mukmin. Syukur adalah cahaya yang menerangi hati, benteng dari keputusasaan, obat bagi kegelisahan, pembuka pintu rezeki, dan jalan menuju cinta Allah.
Marilah kita mengawali setiap pagi dengan doa Rasulullah Saw:
"Alhamdulillāhilladzī aḥyānā ba'da mā amātanā wa ilaihin nusyūr."
Semoga setiap hembusan napas yang Allah anugerahkan menjadi kesempatan untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki akhlak, memperluas manfaat bagi sesama, dan mempersiapkan bekal terbaik menuju hari ketika kita benar-benar dibangkitkan menghadap Allah Swt.
Sebab pada akhirnya, bukan panjangnya umur yang menentukan kemuliaan seseorang, melainkan seberapa banyak umur itu dipenuhi dengan syukur, zikir, amal saleh, dan pengabdian kepada Allah.
Maka, tiada hari tanpa bersyukur. Tiada pagi tanpa mengingat Allah. Tiada kehidupan yang indah selain kehidupan yang dipenuhi syukur kepada-Nya.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa