Orang yang mampu berijtihad wajib berijtihad, sedangkan yang belum mampu wajib bertaklid kepada seorang mujtahid yang terpercaya.
Secara umum, menurut penjelasan beliau dalam kitab-kitab usul fikihnya, tingkatan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
A. Macam-Macam Mujtahid
1. Mujtahid Mutlak (المجتهد المطلق)
Mujtahid mutlak adalah ulama yang memiliki kemampuan menggali hukum secara langsung dari sumber-sumber syariat tanpa terikat dengan metode imam tertentu.
Mereka menguasai secara mendalam:
• Al-Qur'an beserta ilmu-ilmunya.
• Sunnah beserta ilmu hadis.
• Bahasa Arab secara komprehensif.
• Ushul fiqh.
• Kaidah-kaidah istinbath hukum.
• Ijma' sahabat.
• Qiyas (bagi yang menjadikannya hujjah).
• Maqasid dan realitas hukum.
Contoh:
• Abu Hanifah
• Malik bin Anas
• Muhammad bin Idris al-Syafi'i
• Ahmad bin Hanbal
Mereka membangun metode ushul fiqhnya sendiri dan mengeluarkan hukum berdasarkan metode tersebut.
2. Mujtahid fi al-Mazhab
Yaitu ulama yang memiliki kemampuan berijtihad tetapi menggunakan ushul fiqh imam mazhabnya.
Ia tidak membuat metodologi baru, namun mampu mengistinbath hukum terhadap persoalan yang belum dibahas imam mazhab.
Contohnya adalah murid-murid besar para imam mazhab.
3. Mujtahid fi al-Mas'alah
Yaitu ulama yang tidak mencapai derajat mujtahid mutlak, namun memiliki kemampuan berijtihad pada masalah-masalah tertentu.
Mereka mampu:
• meneliti dalil,
• melakukan tarjih,
• mengambil hukum pada persoalan tertentu.
Tingkat ini lebih terbatas dibanding mujtahid mutlak.
B. Macam-Macam Muqallid
Menurut Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani, apabila seseorang belum memiliki kemampuan ijtihad, maka ia termasuk muqallid.
Namun muqallid juga memiliki beberapa tingkatan.
1. Muqallid 'Ammi (Orang Awam)
Yaitu orang yang:
• belum menguasai ilmu syariat,
• belum mampu memahami dalil,
• tidak mampu melakukan istinbath hukum.
Allah berfirman:
"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui."
(QS. An-Nahl: 43)
Mereka wajib bertanya kepada ulama yang dipercaya keilmuan dan ketakwaannya.
2. Muqallid yang Mengetahui Dalil
Ia belum sampai derajat mujtahid, tetapi mengetahui dasar dalil dari pendapat yang diikutinya.
Misalnya:
• mengetahui ayat atau hadis yang menjadi landasan,
• memahami alasan hukumnya secara global,
• tetapi belum mampu melakukan ijtihad sendiri.
Ini merupakan tingkat yang lebih tinggi daripada orang awam.
3. Muqallid yang Melakukan Tarjih Terbatas
Sebagian penuntut ilmu telah mampu membandingkan beberapa pendapat berdasarkan kekuatan dalil pada masalah tertentu.
Namun mereka belum memenuhi syarat sebagai mujtahid secara menyeluruh.
Prinsip Penting Menurut Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani
Beliau menegaskan beberapa prinsip penting:
Pertama
Tidak semua orang boleh berijtihad tanpa ilmu.
Allah berfirman:
"Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya."
(QS. Al-Isra': 36)
Kedua
Taklid bukanlah tujuan akhir.
Idealnya setiap Muslim meningkatkan ilmunya sehingga memahami alasan hukum yang diamalkannya.
Ketiga
Muqallid boleh berpindah pendapat apabila mengetahui dalil yang lebih kuat.
Beliau tidak mewajibkan fanatisme mazhab.
Keempat
Yang menjadi ukuran adalah kekuatan dalil, bukan nama imam.
Karena itu beliau terkenal dengan metode:
"Al-'ibrah bi quwwati ad-dalil la bi asma' ar-rijal."
("Yang menjadi ukuran adalah kekuatan dalil, bukan siapa yang mengatakannya.")
Kelima
Pintu ijtihad tidak pernah tertutup.
Menurut beliau, selama ada orang yang memenuhi syarat ijtihad, maka kewajiban berijtihad tetap berlaku dan tidak boleh dikatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup.
Tabel Ringkas
Tingkatan Kemampuan
Mujtahid Mutlak Menetapkan ushul dan menggali hukum langsung dari Al-Qur'an dan Sunnah.
Mujtahid fi al-Mazhab Berijtihad dengan metode imam mazhab tertentu.
Mujtahid fi al-Mas'alah Berijtihad pada persoalan tertentu yang dikuasai.
Muqallid Berilmu Mengetahui dalil secara umum tetapi belum mampu berijtihad.
Muqallid Awam Mengikuti fatwa ulama karena belum mampu memahami dalil.
Catatan Penting.
Perlu dicatat bahwa klasifikasi di atas merupakan ringkasan dari pemikiran Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam pembahasan usul fikih dan ijtihad. Dalam literatur usul fikih klasik secara lebih luas, terdapat pembagian yang lebih rinci—misalnya mujtahid mutlak mustaqil, mujtahid mutlak muntasib, mujtahid takhrij, mujtahid tarjih, dan lainnya—yang dijelaskan oleh ulama seperti Taj al-Din al-Subki, Jalal al-Din al-Suyuti, dan Muhammad Amin Ibn Abidin. An-Nabhani lebih menekankan aspek fungsional: siapa yang telah memenuhi syarat ijtihad wajib berijtihad, sedangkan yang belum memenuhi syarat wajib bertaklid kepada mujtahid yang dipercaya, sambil terus meningkatkan kapasitas keilmuannya.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Spiritual Motivator Nasional Quantum Spirit )