Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tanda Orang Beriman dalam Nashoihul ‘Ibad: Ketika Diam Menjadi Mahkota Iman

Jumat, 13 Maret 2026 | 17:07 WIB Last Updated 2026-03-13T10:07:19Z
TintaSiyasi.id -- Dalam khazanah turats Ahlussunnah, kita menemukan mutiara nasihat dalam kitab Nashoihul Ibad karya ulama besar Nusantara, 

Syekh Nawawi al-Bantani. Di dalamnya dinukil sabda Rasulullah Muhammad ﷺ:
1. Shalat adalah tiang agama, tetapi diam itu lebih utama.
2. Sedekah memadamkan murka Allah, tetapi diam itu lebih utama.
3. Puasa adalah perisai dari api neraka, tetapi diam itu lebih utama.
4. Jihad adalah puncaknya agama, tetapi diam itu lebih utama.

Sepintas, kalimat ini mengguncang nalar kita. Bagaimana mungkin “diam” lebih utama daripada ibadah-ibadah besar yang menjadi fondasi agama? Apakah ini meremehkan shalat, sedekah, puasa, dan jihad? Tidak. Justru sebaliknya — ini adalah penegasan bahwa 

inti agama bukan hanya gerakan lahir, tetapi penjagaan batin.
Inilah dakwah ideologis-sufistik: membangun peradaban iman dari dalam jiwa.

I. Islam Bukan Hanya Gerakan, Tapi Pengendalian
Shalat adalah tiang agama. Tanpanya runtuh bangunan Islam. Sedekah adalah api pemadam murka Allah. Puasa adalah benteng ruhani. Jihad adalah puncak pengorbanan.
Namun semua itu bisa hancur karena satu hal: lisan yang tidak terjaga.
Berapa banyak:
• Shalat yang kehilangan khusyuk karena hati sibuk mencela orang lain?
• Sedekah yang gugur pahala karena dipamerkan?
• Puasa yang kosong nilai karena ghibah?
• Perjuangan dakwah yang ternodai oleh kesombongan?
Diam yang dimaksud bukan pasif dan apatis. Ia adalah pengendalian diri. Ia adalah kesadaran bahwa satu kata bisa menjadi saksi di akhirat.
Dalam hadis lain Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
Artinya, standar iman itu bukan banyaknya kata, tetapi kualitas ucapan.

II. Lisan: Senjata atau Bencana
Secara ideologis, Islam membangun peradaban dengan ilmu dan akhlak. Namun keruntuhan peradaban sering dimulai dari lisan:
• Fitnah meruntuhkan ukhuwah.
• Hoaks menghancurkan kepercayaan.
• Ucapan kasar mematikan empati.
• Debat egoistik membelah umat.
Di era media sosial, manusia berbicara lebih cepat daripada berpikir. Jemari menjadi lisan baru. Status menjadi cermin jiwa. Komentar menjadi ukuran akhlak.
Maka nasihat dalam Nashoihul ‘Ibad menjadi semakin relevan. Diam adalah bentuk jihad batin. Diam adalah perisai di tengah kegaduhan dunia.

III. Makna Diam dalam Perspektif Sufistik
Dalam tasawuf, diam bukan sekadar tidak berbicara. Diam adalah:
1. Menahan diri dari keburukan.
2. Mengosongkan hati dari riya’.
3. Mengisi jiwa dengan dzikir.
4. Mendekatkan diri kepada Allah.
Orang yang banyak bicara cenderung banyak salah. Orang yang banyak diam cenderung banyak merenung.
Diam adalah ruang muhasabah. Dalam diam, hati berbicara kepada Rabb-nya. Dalam diam, jiwa menemukan kejernihan.
Para salaf berkata:
“Jika ucapanmu bukan dzikir, maka diam lebih selamat.”
Karena lisan adalah cermin qalbu. Jika hati kotor, lisan menjadi tajam. Jika hati bersih, lisan menjadi lembut.

IV. Diam Bukan Lemah, Tapi Kuat
Jangan salah memahami. Diam bukan berarti:
• Tidak berdakwah
• Tidak menegur kemungkaran
• Tidak membela kebenaran
Diam yang utama adalah meninggalkan keburukan, bukan meninggalkan kewajiban.
Justru orang yang mampu diam ketika marah, itulah orang kuat. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang kuat bukan yang menang dalam gulat, tetapi yang mampu menahan diri ketika marah.”
Diam adalah tanda penguasaan diri. Ia menunjukkan kedewasaan iman.

V. Tanda-Tanda Orang Beriman Sejati

Berdasarkan nasihat ini, orang beriman memiliki ciri-ciri:
1.  Shalatnya mendekatkannya pada akhlak mulia
2. Sedekahnya membersihkan jiwanya dari riya’
3. Puasanya menjaga lisannya
4. Perjuangannya ikhlas karena Allah
5. Ucapannya penuh hikmah

Ia tidak haus pengakuan.
Ia tidak gemar perdebatan sia-sia.
Ia tidak mudah tersulut provokasi.
Ia berbicara seperlunya dan menenangkan suasana.
Orang seperti ini menjadi rahmat bagi sekitarnya.

VI. Membangun Peradaban Diam yang Produktif

Jika umat Islam mampu:
• Menahan diri dari ujaran kebencian
• Menghentikan budaya saling menjatuhkan
• Mengganti caci dengan doa
• Mengganti debat dengan ilmu
Maka lahirlah masyarakat yang beradab.
Diam bukan berarti tidak produktif. Diam bisa menjadi:
• Pintu lahirnya pemikiran mendalam
• Ruang lahirnya ide cemerlang
• Jalan menuju keikhlasan
Karena kebisingan dunia sering mematikan suara hati.

VII. Aplikasi Praktis dalam Kehidupan Modern
Agar nasihat ini hidup dalam diri kita:
Latih “puasa lisan” minimal satu jam sehari.
Hindari komentar spontan ketika emosi.
Gunakan lisan untuk dzikir dan doa.
Berbicara hanya jika membawa manfaat.
Evaluasi diri setiap malam: “Apakah hari ini lisanku menyakiti orang?”

Dengan latihan ini, kita bukan hanya rajin beribadah, tetapi juga matang secara ruhani.

Penutup: Diam yang Mengangkat Derajat

Shalat membangun hubungan vertikal.
Sedekah memperbaiki hubungan sosial.
Puasa menguatkan pengendalian diri.
Jihad menuntut pengorbanan.

Namun diam menjaga semuanya dari kehancuran.
Orang beriman sejati bukan yang paling banyak bicara tentang agama, tetapi yang paling sedikit menyakiti dengan lisannya.
Dalam diam yang terjaga, iman bertumbuh.
Dalam diam yang ikhlas, hati menjadi jernih.
Dalam diam yang penuh dzikir, jiwa menjadi tenang.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang lisannya lembut, hatinya bersih, dan imannya kokoh.
Karena terkadang, jalan tercepat menuju ridha Allah bukan melalui banyaknya kata — tetapi melalui kesadaran untuk menahannya.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update