Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Menjaga Bumi dengan Syariat

Rabu, 28 Januari 2026 | 09:12 WIB Last Updated 2026-01-28T02:13:14Z
TintaSiyasi.id -- Krisis Lingkungan: Cermin Rusaknya Cara Pandang Manusia

Hari ini bumi tidak sedang “lelah”, tetapi sedang dizalimi. Hutan digunduli, laut dikotori, tanah diracuni, udara dicemari. Semua atas nama pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.

Masalahnya bukan semata kurangnya teknologi, tetapi rusaknya paradigma.
Ketika ekonomi dibangun di atas keserakahan, maka kerusakan hanyalah soal waktu.

Ekonomi kapitalis memandang bumi sebagai objek produksi, bukan amanah ilahi.
Alam direduksi menjadi komoditas, angka, dan grafik keuntungan.

Kapitalisme dan Ilusi Ekonomi Hijau

Kapitalisme hari ini mencoba tampil ramah lingkungan:
green economy, carbon trading, sustainable branding.
Namun hakikatnya tetap sama: keuntungan di atas segalanya.

Islam mengajarkan kita berpikir jernih:
tidak mungkin sistem yang lahir dari kerakusan mampu melahirkan keadilan ekologis.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.”
(QS. Ar-Rum: 41).

Kerusakan bumi adalah buah dari kerusakan moral ekonomi.

Syariah: Paradigma Tauhid dalam Menjaga Bumi

Dalam Islam, hubungan manusia dengan alam bukan hubungan bisnis, melainkan hubungan ibadah.

Tauhid: Alam adalah Ayat Allah

Bumi bukan milik korporasi, bukan milik negara, tetapi milik Allah.
Setiap gunung, laut, dan pepohonan adalah ayat kauniyah yang harus dimuliakan.

Merusak alam berarti meremehkan tanda-tanda kebesaran-Nya.

Khalifah: Amanah, Bukan Eksploitasi

Manusia ditunjuk sebagai khalifah, bukan predator.

Khalifah itu:

Menjaga keseimbangan (mizan)

Mengelola dengan tanggung jawab

Tak serakah, tak rakus, tak sewenang-wenang

Ekonomi yang menindas bumi adalah pengkhianatan terhadap amanah khalifah.

Hisab: Ekologi dalam Bingkai Akhirat

Islam menanamkan kesadaran yang hilang dalam kapitalisme: pertanggungjawaban akhirat.

Bukan hanya shalat dan puasa yang dihisab,
tetapi juga:

Dari mana kekayaan alam diperoleh

Bagaimana ia dikelola

Siapa yang dizalimi karenanya

 Ekonomi Kapitalis vs Ekonomi Syariah

Kapitalisme                         Syariah Islam

Profit: sebagai tujuan   Maslahah sebagai orientasi
Alam = komoditas         Alam = amanah
Konsumsi berlebihan     Larangan israf & tabdzir
Growth tanpa batas         Keseimbangan (mizan)
Pasar absolut                    Wahyu & etika

Maka jelas, krisis lingkungan adalah bukti kegagalan sistemik kapitalisme.

Menjaga Bumi adalah Ibadah

Dalam syariah, menjaga lingkungan bukan agenda aktivis semata, tetapi bagian dari iman.

Menanam pohon adalah sedekah.
Menghemat air adalah ketaatan.
Menolak eksploitasi adalah keberanian iman.

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”
(QS. Al-A’raf: 56).

Penutup: Dakwah Ekologi sebagai Jalan Kesadaran Umat

Umat Islam tidak boleh menjadi penonton kerusakan bumi.
Kita harus menjadi pelopor peradaban yang adil, berimbang, dan bertauhid.

Bumi akan selamat
bukan dengan slogan hijau, tetapi dengan kembalinya manusia kepada syariah dan tauhid.

 Menjaga bumi adalah ibadah peradaban.

Dr. Nasrul, Syarif, M.Si
Dakwah | Pendidikan | Kesadaran Peradaban

Opini

×
Berita Terbaru Update