Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Efek Domino dari Kehidupan yang Serba Rusak

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:50 WIB Last Updated 2026-10-02T03:50:46Z

TintaSiyasi.id -- 'Apa yang bisa kami bantu hari ini?' Kalimat berikut merupakan kalimat pembuka 'Beranda atau halaman utama dari Healing 119' sebuah layanan hotline kesehatan mental berbasis daring yang dapat diakses 24 jam. Layanan ini hadir sebagai pertolongan pertama krisis psikologis milik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Layanan ini diperuntukkan bagi siapa pun yang sedang mengalami tekanan emosional, keputusasaan, atau dorongan untuk menyakiti diri sendiri maupun mengakhiri hidup.

Dan yang paling menyayat hati dari hadir nya layanan ini adalah fakta dimana hampir 500-600 orang yang mengaksesnya dalam satu shift selama 3 jam, bahkan pasien mulai dari usia 8 tahun ikut mengaksesnya dan di dominasi usia 21-30 tahun. MenKes Budi Gunadi Sadikin, menyatakan bahwa layanan healing 119 belakangan ini kebanjiran pengakses, lonjakan terjadi seiring semakin banyaknya masalah kesehatan jiwa yang terdeteksi setelah Pemerintah melakukan pengukuran secara masif melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). (detikHealth, 17/09/2026)

Lonjakan ini bukanlah kasus berdiri sendiri, melainkan efek domino dari rusaknya tatanan hidup kita saat ini, dan kondisi ini juga tidak sebanding dengan Psikolog yang bertugas, saat ini tenaga yang bertugas hanya sekitar 5 orang, sedangkan pasien menembus angka 600 orang dalam waktu 3 jam. Sehingga durasi konseling harus dibatasi, setiap pasien mendapatkan penanganan maksimal 30 menit, dengan harapan akan lebih banyak orang yang dapat ditangani. 

Apakah semua ini solutif? dan setelah itu masalah selesai? Tentu sudah mampu kita tebak, justru permasalahan ini hanya akan terganti dengan permasalahan yang baru, kenapa?
Karena penyelesaian hanya dilakukan di permukaannya saja sedangkan titik akar masalahnya tidak tersentuh.

Saat ini tatanan kehidupan masyarakat sudah sangat rusak, jika diselesaikan dengan layanan psikolog secara online saja tentu tidak cukup, titik masalahnya adalah diterapkannya sistem Sekularisme-Kapitalisme dalam pengaturan tatanan kehidupan manusia, melalui sistem pendidikan yang sekuler dan ekonomi berbasis Kapitalisme.

Dimana sistem Sekularisme ini mampu mencabut akidah dari kehidupan, tentu hal ini akan sangat membahayakan, ditengah gempuran gaya hidup hedonis, budaya positivisness, dimana kesuksesan menjadi fokus utama dalam hidup, dalam asosiasi. Akan sangat mempengaruhi kehidupan generasi, disaat akidah dicabut, generasi tidak akan punya pegangan saat menghadapi beban dan tekanan hidup, tanpa adanya iman sebagai benteng, kesulitan terasa sangat berat dan akhirnya berujung pada keputusasaan. 

Kapitalisme juga membentuk masyarakat yang individualistik, nirempati, dimana setiap orang akhirnya berjuang sendiri tanpa adanya ikatan masyarakat yang kuat. Kesepian pun terjadi dan semakin merajalela, bahkan tidak ada jaminan ketika sebagian diantara mereka secara materi berkecukupan. 

Jadi, siapakah dalang utamanya. Tentu negara, karena negaralah yang membentuk individu rapuh dan masyarakat yang individualistik. 

Lantas bagaimana memutus benang kerusakan ini, di dalam Islam negara itu sebagai _raa'in_ pelindung dan pengurus umat, negara harus hadir untuk melindungi umat, bahkan perindividu dan umat tidak akan dibiarkan menyelesaikan permasalahan sendiri. 

Akan adanya upaya negara dalam menyelesaikan masalah umat. Pertama, negara akan membangun akidah umat terlebih dahulu, dengan Sistem Pendidikan yang berbasis Islam, dimana kurikulum pendidikannya tidak dibuat hanya untuk berorientasi pada pencapaian materi dan juara kompetisi semata, melainkan kurikulum yang mampu menanamkan pemahaman akidah yang kuat kepada pelajar dan menjadikan akidah Islam sebagai benteng jiwa sejak dini.

Sehingga terbentuklah generasi yang memiliki pola pikir dan pola sikap yang berlandaskan pada Wahyu Allah SWT. Disaat itulah akan muncul keyakinan ketika kesulitan datang, itu merupakan ujian dari Allah SWT dan bahwa bunuh diri adalah perbuatan haram, sehingga pembentukan syaksiyah Islam menjadi penahan terkuat bagi seorang Muslim dari keputusasaan.

Kedua, membangun ikatan yang kuat antara keluarga dan masyarakat dengan berlandaskan aqidah Islam. Jadi, tidak ada seorang pun yang dibiarkan menanggung beban hidupnya sendirian dan merasa kesepian. Empati, simpati antar keluarga, hingga masyarakat akan terjalin. 

Terakhir, tentu semua itu hanya akan terwujud dalam negara yang menerapkan sistem Islam secara kaffah. Negara mampu menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah dan sistem ekonomi Islam yang menjamin kesejahteraan. Sehingga lahirlah individu yang kokoh dan masyarakat yang saling peduli, bukan generasi yang rapuh dan kesepian. 

Wallahu a'lam bish-shawab.


Oleh: Indi Lestari
Aktivis Muslimah

Opini

×
Berita Terbaru Update