Tintasiyasi.id.com -- Mus’ab bin Umair. Seorang sahabat Nabi saw. yang menjadi duta Islam pertama ke Madinah dengan membawa sebuah misi besar. Kedatangan Mus’ab bukan sekadar sebagai pembawa syiar Islam, tapi juga sebagai seorang guru Islam pertama di Madinah yang sengaja diutus oleh Rasulullah saw.
Ia tak hanya mengajarkan Al-Qur’an, ia mendakwahkan Islam serta menjadi imam salat di sana kala itu. Apa yang menjadi gambaran Islam dan rasul, sebagian tampak pada diri Mus’ab bin Umair.
Sebelum masyarakat Madinah melihat Islam dan Rasulullah, tentu mereka akan melihat sosok Mus’ab bin Umair terlebih dulu. Seorang Muslim dengan keimanan yang kokoh, ketaatan yang totalitas serta keluasan ilmu Islam telah termanifestasi dalam sosok yang disebut sebagai guru umat.
Adapun Islam, sesungguhnya telah menempatkan guru sebagai tonggak penting dalam penyampaian ilmu kepada umat. Guru adalah bagian dari proses transfer ilmu, membentuk akhlak dan membimbing manusia menuju jalan keimanan.
Bahkan Allah SWT. meninggikan derajat seseorang bernama guru, sebagaimana di QS. Al Mujadilah: 11,
“Allah akan meninggikan orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat”.
Dari ayat tersebut, guru menjadi salah satu jalan seseorang bisa memperoleh ilmu, maka aktivitas mengajar mempunyai kedudukan yang mulia di sisi Islam.
Sebagai seorang manusia biasa, guru bisa saja berbuat salah dan khilaf. Hanya saja, ketika guru mengajarkan kebenaran dan kebaikan tentu ia harus menjadi pihak yang pertama kali mengikuti kebenaran dan menjalankan kebaikan tersebut.
Menjadi bencana jika guru mengajarkan ilmu Islam, namun ia sendiri tidak menjalankan Islam dengan baik. Bahkan Allah SWT. sendiri sangat membenci manusia yang mengatakan tapi tidak melakukannya.
Allah SWT. Maha Mengetahui atas hakikat manusia menjadi tempatnya salah dan lalai, karena itu Allah SWT. menurunkan segenap syariat yang sempurna dan paripurna untuk menjaga manusia, termasuk guru agar tetap berada dalam koridor kebenaran dan kebaikan Islam serta mampu menjalankan peran mulianya.
Syariat Islam yang terejawantahkan dalam segala aspek kehidupan mulai aspek politik, ekonomi, sosial, sistem sanksi bahkan pendidikan melalui penerapan oleh institusi negara Islam, menjadi iklim yang kondusif bagi guru untuk senantiasa dalam suasana keimanan dan ketakwaan yang mantap.
Akidah Islamiyah yang kokoh ditambah penerapan sistem Islam oleh negara, menjadi alat pencegah dan pelindung bagi para guru untuk melakukan aktifitas kemaksiatan.
Sehingga angka pelanggaran terhadap syariat Islam yang dilakukan oleh para guru bisa ditekan dan diminimalkan.
Beda cerita jika para guru hidup di bawah naungan sistem bukan Islam seperti sekarang.
Sekularisme dengan konsep fashluddin ‘anil hayah, telah sengaja memisahkan agama dari kehidupan dan secara nyata telah menciptakan akidah para guru menjadi lemah bahkan seiring waktu semakin terkikis habis.
Sekularisme mendidik para guru untuk melihat kehidupan ini terpisah dengan kehidupan akhirat. Hal ini membuat guru justru menjadi figur pelaku kemaksiatan di manapun, tak terkecuali di lingkungan sekolah.
Selain merusak akidah, peradaban sekuler juga mengajari para guru untuk meninggalkan Islam di area privat semata. Sementara di area publik menggunakan aturan main sendiri yang berprinsip pada kebebasan.
Yang lebih parah adalah bagaimana kapitalisme telah mengatur cara berpikir dan bertindak para guru untuk berorientasi pada materi, bukan pada apa yang haq dan batil. Ruh mengajar tidak lagi menyampaikan ilmu dan kebenaran, berubah menjadi transaksional yang mendatangkan keuntungan duniawi.
Akhirnya, guru di sistem sekuler telah kehilangan marwah dan kemuliaan sebagai sumber ilmu dan panutan. Guru tak lagi menjadi sosok yang digugu atau didengarkan, juga ditiru.
Semua itu menjadi sinkron dan menemukan faktanya pada apa yang terjadi serta menimpa para guru dewasa ini. Satu per satu perilaku bejat dan tak senonoh guru dilakukan lalu dipertontonkan di muka umum.
Seperti video viral di media sosial yang memperlihatkan seorang guru berzina dengan kepala sekolah di Pekalongan, pada awal Agustus ini. Menurut informasi, kemaksiatan itu terjadi di lingkungan sekolah dan parahnya kedua pelaku sudah berkeluarga (detik.com, 04/09/26).
Bukan kali pertama terjadi tindak kemaksiatan yang dilakukan oleh guru. Bahkan sebelumnya juga kedapatan video asusila seorang guru wanita tersebar di dunia maya. Kasus-kasus yang serupa mulai dari perselingkuhan, bullying, perzinahan, dan lainnya yang terjadi pada guru bak fenomena gunung es.
Di antara yang terungkap, pasti masih banyak di luar sana yang terjadi secara tersembunyi dan tak terekpos media. Hal ini menunjukan bahwa dunia guru tidaklah seperti dulu, bahkan sekarang guru secara berjamaah menjadi pelaku dari keburukan, korban dari penerapan sistem yang rusak.
Bila tidak ada upaya perjuangan dan perubahan yang dilakukan, mustahil guru akan keluar dari lubang gelap sistem sekuler kapitalisme ini. Wal 'iyadzu billah.[]
Oleh: Ninik Rahayuningsih
(Aktivis Muslimah)