Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Bencana Terus Terjadi, Apa Solusinya?

Kamis, 17 September 2026 | 04:47 WIB Last Updated 2026-09-16T21:47:21Z

TintaSiyasi.id -- Akhir tahun lalu wilayah sumatera mengalami bencana alam banjir bandang yang hingga kini masih belum terselesaikan penanggulangannya. Memasuki awal tahun bencana alam masih terus terjadi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 1.700 kejadian bencana alam di Indonesia terjadi hingga September ini. 

"Sampai dengan tanggal 7 September 2026, tercatat sebanyak 1.730 kali. Terbagi atas bencana geologi, terdiri dari gempa bumi 13 kali, erupsi gunung api 3 kali dan bencana hidrometeorologi, ini karhutla sudah 627 kali, banjir 543 kali, cuaca ekstrem 324 kali, tanah longsor 105 kali, kekeringan 101 kali, serta gelombang pasang dan abrasi 14 kali," kata Sekretaris Utama (Sestama) BNPB Rustian dalam konferensi pers, Selasa (8/9/2026)(detiknews.com). 

Bencana terus terjadi, sementara bencana sebelumnya belum tuntas penanggulangannya. Bencana-bencana ini bisa jadi adalah ulah tangan manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab dan serakah sebagaimana yang Allah sampaikan dalam Al-Qur'an "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (TQS. Ar-Rum: 41)

Tanggung Jawab Siapakah Bencana Ini?

Berdasarkan UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, tanggung jawab utama penyelenggaraan penanggulangan bencana berada pada Pemerintah dan pemerintah daerah. 

Adapun yang menjadi tanggung jawabnya:
Pertama; Perlindungan masyarakat, 
Kedua; Pengurangan risiko,
Ketiga; Penetapan kebijakan bencana yang adil, proporsional, dan sesuai dengan kondisi daerah. Keempat; Menyelenggarakan penanggulangan bencana secara cepat, tepat, dan efisien saat terjadi status darurat.
Kelima; Menyediakan anggaran penanggulangan bencana yang memadai dalam APBN dan APBD. Keenam; Melaksanakan pemulihan (rehabilitasi dan rekonstruksi) wilayah pasca bencana secara terarah.

Dental banyaknya bencana yang terjadi, anggaran untuk bencana malah dipangkas. Anggaran BNPB tercatat sebesar Rp4,91 triliun pada 2024, lalu turun menjadi Rp2,01 triliun pada 2025, dan kembali dipangkas hingga tersisa sekitar Rp491 miliar pada 2026. Pemotongan ini merupakan bagian dari kebijakan efisiensi anggaran negara untuk mengalihkan atau membiayai program prioritas lain seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Sungguh sangat miris kita melihat kondisi seperti ini.

Kondisi seperti ini adalah akibat dari penerapan sistem kapitalisme-demokrasi dalam kehidupan. Dimana asas dari sistem ini adalah memisahkan kehidupan dunia dari agama. Sehingga membolehkan manusia berbuat dan memiliki apapun semuanya tanpa batasan yang jelas. 

Selain itu sistem kapitalisme-demokrasi juga membentuk karakter pemimpin yang mengutamakan kepentingan oligarki dibandingkan kepentingan masyarakat, menjadi pemimpin yang pragmatisme, dan menjadi pemimpin yang tidak bertanggung jawab. Fakta ini semua bisa kita lihat dan rasakan langsung hari ini.

Sudut Pandang Islam 

Kondisi yang terjadi hari jelas akan sangat berbeda jika Islam diterapkan sebagai sistem peraturan kehidupan dalam bingkai Khilafah. Negara Islam tidak akan membiarkan bencana-bencana terus terjadi terlebih bencana tersebut merupakan ulah tangan manusia, penggundulan hutan yang menyebabkan banjir bandang, kebakaran hutan yang disengaja oleh sebahian oknum jelas ini akan langsung di berantas dan diberikan sanksi yang tegas kepada pelaku sehingga kejadian ini tidak terjadi berulang-ulang.

Negara Islam juga akan menghadirkan pemimpin yang bertanggung jawab dan mejadikan masalah masyarakat adalah prioritas yang harus segera di selesaikan. Bukan hanya menjadi pemimpin yang sekedar menerima laporan tetapi tidak memastikan laporan itu benar atau tidak.

Pemimpin Islam memiliki prinsip yaitu : amanah dan tanggung Jawab, kehadiran langsung di tengah-tengah rakyat yang tertimpa musibah. Pendekatan spiritual (muhasabah) agar bersabar dan bertobat. 

Seperti pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Saat masa paceklik atau tahun kelaparan (Amud Ramadah), Khalifah Umar bin Khattab memanggul sendiri karung gandum untuk diberikan kepada rakyatnya yang kelaparan. Beliau juga sigap membangun tanggul pengaman saat terjadi banjir bandang di Makkah (Banjir Ummu Nashal) untuk melindungi Masjidil Haram. Kemudian masa kepemimpinan Nuruddin Zanki, beliau bergerak cepat memulihkan wilayah yang hancur akibat gempa serta aktif mencari solusi dan bantuan logistik secara langsung tanpa menunda. Membentuk tim penyelamat, menyediakan suplai makanan, tempat tinggal darurat, serta layanan medis bagi korban terdampak.

Beginilah potret pemimpin dari negara yang menerapkan sistem Islam. Tidakkah kita menginginkan pemimpin-pemimpin yang seperti ini? Pemimpin seperti ini hanya akan terwujud jika sistem Islam diterapkan.
 Wallahu a'lam.[]


Oleh: Fadillah Isnaini 
Aktivis Muslimah

Opini

×
Berita Terbaru Update